Karena ada momen emosional yang baru saja terjadi. Akhirnya mau ngga mau aku menjadi familiar dengan rute pantura, Semarang-Pati. Kedekatan itu akhirnya menjadi sesuatu yg menyebalkan, karena rute Semarang-Demak sedang dalam masa perbaikan. Lebih tepatnya dipasang cor, katanya sih agar lebih kuat dari sekedar aspal (mana yg lebih hebat yah, aspal ato cor?). Jalan pun ditinggikan, ada sekitar setengah meter an dari jalan awal, artinya bangunan di samping jalan, terlihat sedikit tenggelam.
Opsi peninggian jalan ini mungkin karena kerusakan jalan yg emang selalu dan selalu ada. Itu sih PR pemerintah, ngga mungkin dong kendaraan berat disalah-salah kan, mereka juga bayar pajak kali. Dan emang udh ada peraturannya untuk kendaraan berat melewati jalan-jalan tertentu yg udh disediakan. Dan salah siapa klo tiba-tiba jalan yg udh disediakan jadi rusak. Salah yg menang tender kali yah, pesennya aspal dengan kualitas nomor satu, dapetnya kualitas no sekian, yang tidak sesuai dengan yg diinginkan. Padahal jelas, jalan itu akan dilalui kendaraan-kendaraan berat.
Pengusaha bisa banyak yang rugi. Karena perjalanan terhambat. Kendaraan ngga mungkin bisa melaju normal, karena kerusakan jalan yang parah. Ngga jarang, banyak terjadi kecelakaan-kecelakaan tunggal, akibat muatan terguling atau apalah. Miris juga buat kendaraan pribadi dan motor roda dua, salah-salah bisa kejatuhan container, dan itu nggak lucu sama sekali.
Atau kah opsi itu diambil karena untuk penanggulangan ROB. Semarang dari jaman kapan tau emang terkenal ROB (baca: kenaikan air laut). Dan itu dari pemimpin udh ganti sampai ganti lagi, sampai terpilih lagi, sampai nyalon gubernur (tp ga jadi), sampai (mungkin) mau jd walikota lg, atau sampai kapan lah entah lagi, tetep gak terselesaikan (kayaknya syuusyaah buanget). Mungkin opsi peninggian jalan ini menjadi semacam penyelesaian, agar pengguna jalan tak lagi kuatir akan digenangin rob, dan kendaraan mereka jauh dr keropos akibat air laut.
Klo dilihat, selokan dan kali yang mengapit jalan itu, agaknya memang kurang memadai. Karena ada banyak taneman air (enceng gondong dkk), limbah (scr disitu kawasan industri), sampah, tanah yg membuat kali mnjd dangkal, dan air yang menggenang, sepertinya tak mengalir semestinya.
Bukannya mau jd sok-sok an ngerti tata kota, tapi bukannya ROB mustinya diselesaiin dengan saluran air yg memadai yah. Sehingga klo ROB datang, aliran air nya jelas, penampungannya jelas. Dan otomatis dengan sifat air yang menempati segala ruang, dan mengalir dr atas kebawah, semua itu bisa teratasi. Atau bila perlu pasang pompa penyedot air dong. Tapi alirannya sungai nya musti jelas, lancar, dan tidak terhambat (apapun bentuk hambatan nya).
Jalan sih ngga pernah nolak ditinggiin. Pengguna jalan, walaupun awalnya kesel karena pembangunan yang artinya menghambat perjalanan, toh akhirnya juga akan senang melaju diatas banguna cor yang bagus dan lancar. Tapi gimana dengan bangunan yang (tenggelam) di samping kanan dan kiri jalan.
Bayangkan, jika ROB datang, pengguna jalan akan berasa berada di atas danau, mereka akan berkendara dengan angkuh, sambil melihat jajaran danau yang berada di samping kanan dan kiri jalan. Dan penghuni bangunan yang ada di samping kanan dan kiri jalan, akan melihat pemandangan tragis itu, hingga akhirnya mereka akan mati rasa, dan menerima keadaan apa adanya, tanpa perlawanan..
-- butuh pengorbanan bukan berarti harus ada yg dikorbankan dong --
saya bingung deh, Indonesiakan punya kota Buton, penghasil aspal dengan kualitas nomor satu bahkan di ekspor. tapi kenapa jalanan di Indonesia aspalnya jelek-jelek? di pantura perbatasan cirebon-jateng aspalnya bergelombang, masuk jateng tepatnya di brebes jalanannya berlobang. bahkan saya pun pernah jadi korban lobang sampe pecah ban di daerah mau masuk Tegal, mana waktu itu malem gelap gulita lagi.
setahu saya, sifat aspal tuh lebih elastis daripada cor yang keras dan stabil, tanah di daerah pinggir laut cenderung lebih mudah bergeser, sehingga bila di-aspal kemungkinan aspal retak bahkan pecah menjadi relatif tinggi, apalagi kalau dilalui oleh kendaraan besar dengan muatan berat (pastinya aspal akan bergelombang), hanya saja cor lebih mempercepat keausan roda kendaraan. CMIIW
hanya saja cor lebih mempercepat keausan roda kendaraan.
Iya yah, kebayang deh. apalagi sekarang masih cor2 gtu, belom dilapisi apa2. Trus apa kabar yg dikanan kiri jalan yah, kasian. Kenapa mereka musti (scr ngga langsung) ditenggelamkan..
oalah... innalillahi wa inna ilaihi rojiun walaupun tuelat, sy ikut berduka cita atas wafatnya 'swargi' mbah kakung semoga amal ibadahnya mendapat ridha Allah , amin
Trus apa kabar yg dikanan kiri jalan yah, kasian. Kenapa mereka musti (scr ngga langsung) ditenggelamkan..
musuh utama aspal adalah air, jadi begitu ada air yang menggenang di aspal...cepat atau lambat aspal akan berlubang, maka dari itu jalan beraspal selalu lebih tinggi di bagian tengah, supaya kalau hujan...air bisa mengailr kesamping.
Mungkin kondisi ini bisa juga dibuat film dokumenter..biar orang lain, dalam arti, pemerintah, bisa benar-benar melihat dan memperhatikan..kalo ternyata mereka masih adem ayem, at least, kita dah berusaha memperbaiki negeri ini..Mari! Hidup Indonesia dengan segala tergelombangan jalannya*nah lo, gimana itu* dengan segala kekurangan dan kesengsaraan rakyatnya..yeah!mari..berpacu dengan Mbak Yeti..hihihi
setahu saya, sifat aspal tuh lebih elastis daripada cor yang keras dan stabil, tanah di daerah pinggir laut cenderung lebih mudah bergeser, sehingga bila di-aspal kemungkinan aspal retak bahkan pecah menjadi relatif tinggi, apalagi kalau dilalui oleh kendaraan besar dengan muatan berat (pastinya aspal akan bergelombang), hanya saja cor lebih mempercepat keausan roda kendaraan. CMIIW
Gak papa... indonesia juga penghasil karet yang lumayan besar kok... apa kabarnya alas karet mijen...?
musuh utama aspal adalah air, jadi begitu ada air yang menggenang di aspal...cepat atau lambat aspal akan berlubang, maka dari itu jalan beraspal selalu lebih tinggi di bagian tengah, supaya kalau hujan...air bisa mengailr kesamping.
mudah-mudahan ganti gubernur baru nanti pekerjaan2 dari gubernur lama gak di pandang sebelah mata. dan bisa melihat aspek lingkungn dan kelaikan baik pemakai jalan maupun masyarakat sekitar y..
Mungkin kondisi ini bisa juga dibuat film dokumenter..biar orang lain, dalam arti, pemerintah, bisa benar-benar melihat dan memperhatikan..
Lahh jeng Na, film dokumenter yg nonton mahasiswa-mahasiswa juga. Sekali-sekali adain nonton bareng film dokumenter yg kritis-kritis gtu bareng ma pemerintah. Pemerintah ajah mau nonton AAC masak ga mau nonton dokumenter yg cuma bentar yahh..
Mungkin Semarang perlu studi banding ke Belanda. Tapi harus bener2 belajar tentang gimana caranya menanggulangi rob, bukan studi banding yang laen. Eh, sek sek..kayaknya ada yg salah sm kalimatku. Kalo judulnya "studi banding", berarti cuma belajar membandingkan tanpa adanya jalan keluar. terus, istilah yang pas apa yah jeng?