::: julianawa.multiply.com :::

Blog EntryTentang film Ayat-Ayat CintaMar 2, '08 10:41 PM
for everyone
Pasti banyak yang udah nonton yah.. Oke aku termasuk telat. Karena keinginan nonton udh gak semenggebu-menggebu kmrn2 ini.

Ada beberapa yang masih menjadi pertanyaan dalam benakku. Ini benar2 adalah pertanyaan yang muncul dalam pikiranku. Bukan berarti aku menyangsikan kemampuan semua pembuat film AAC dalam mengartikan buku itu. Mungkin saya salah. Karena satu buku, bisa memiliki arti yang berbeda dalam pikiran setiap orang, setiap pembaca.

Berbagai kepentingan pun kemudian muncul. Dan harus diberi tempat dalam film tersebut. Karena film ini memuat kepentingan semua orang. Antara lain produser (yang keluar uang bermilyar2), sutradara dan kru film, penulis buku, dan penggemar fanatik pembaca buku Ayat-Ayat Cinta.

Sebagai pembaca novel, dan mengingat bahwa film itu berjudul sama, dan diangkat dari novel yang berjudul sama pula. Saya rasa wajar jika ada sebagian orang yang membanding2 kan nya. Dan berharap sama dengan buku, karena itu adalah buku yang difilmkan, bukan film yang dibukukan. Kalau Film yang dibukukan, mungkin hasilnya pun juga sama, setiap pembaca ingin membaca buku yang sesuai dengan film. Tapi tetap tak dapat dipungkiri, mereka bermedia berbeda. Buku dan Film.

Ini pertanyaan yang muncul dalam benak ku,
  • Sejak kapan Aisya bisa berbahasa Indonesia. Walaupun di film, mereka menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam film. Tetapi, tetap tak berubah juga bukan, bahwa Aisha tak bisa berbahasa Indonesia. Lalu bagaimana dia bisa tau bahwa paman dan bibi Nurul datang untuk minta Fahri menikahi Nurul, yang kemudian menyulut kemarahan Aisha. Ditambah lagi dengan sms dari Saiful yang berbahasa Indonesia, yang sengaja dibaca Aisha (dan secara kebetulan pula, Aisha tau bahasa Indonesia). Kemarahan Aisha pun kian tersulut.
  • Di buku, Paman dan bibi Nurul datang kepada Fahri. Tepat saat Fahri akan menikahi Aisha. Dan di film, Fahri tak tahu menahu apa yang terjadi dengan Nurul beberapa saat setelah pernikahannya dengan Aisha. Nurul sepertinya tak ada arti dalam hati Fahri. Di buku..

    --- Aku meneteskan air mata. Tetesan itu makin lama makin deras. Akupun tergugu. Kenapa jalan takdirnya seperti ini? Kenapa berita yang sebenarnya sangat membahagiakan hatiku ini datang terlambat. Satu-satu nama seorang gadis yang bila kudengar hatiku bergetar adalah Nurul. Nurul Azkiya. Berita yang seharusnya membuat hatiku berbunga-bunga itu kini justru mebuat hatiku terasa pilu. Dalam hati aku menyumpahi kebiasaan buruk orang Jawa. Alon-alon waton kelakon! Jadinya selalu terlambat. Jika dua bulan yang lalu Nurul mengucapkan tiga kata saja : maukah kamu menikahiku? Tak akan ada kepedihan ini. Sejak bertemu muka dengan Aisha hatiku sepenuhnya dipenuhi rasa cinta kepadanya. Dan beberapa jam lagi ikatan suci yang menyatukan cinta kamu akan terjadi, insya Allah. ---

    --- Dengan terisak-isak kukatakan pada ustadz Jalal dan Ustadzah Maemunah, “Oh, andaikan waktu bisa diputar kembali. It is no use crying over spilt milk. Tak ada gunanya menangisi susu yang telah tumpah!” ---

    --- “Apa yang bisa aku lakukan untuk Nurul Ustadz, apa. Seandainya Ustadz jadi diriku apa yang bisa ustadz lakukan?” kataku sambil tergugu, hatiku merasa pilu. Seandainya Nurul dan Aisha datang bersamaan, aku tak perlu sholat istikharah untuk memilih Nurul. Aku lebih mengenal Nurul daripada Aisha. Tapi siapa bisa menarik mundur waktu yang telah berjalan. ---


    --- Apa yang terjadi antara diriku dengan Nurul adalah tragedi yang sangat memilukan. Aku tak memungkiri, di dalam taksi selama perjalanan menuju rumah Eqbal Hakan Erbakan, hatiku menangis. Aku ini siapa? Nurul sungguh terlalu. Apakah dia bukan orang Jawa? Aku ini orang Jawa. Di Jawa, seorang khadim kiai dan batur santri, anak petani kere, mana mungkin berani mendongakkan kepala apalagi mengutarakan cinta pada seorang putri kiai. Dia sungguh terlalu menunggu hal itu terjadi padaku. Semestinya dialah yang seharusnya mengulurkan tangannya. Dia sungguh terlalu berulang kali ketemu tidak sekalipun mengungkapkan persaannya yang mungkin hanya membutuhkan waktu satu menit. Atau kalau malu hanya dengan beberapa baris tulisan tangannya tragedi ini tidak akan terjadi. Menyatakan cinta untuk menikah di jalan Allah bukanlah suatu perbuatan tercela. Dia sungguh terlalu. Tapi dia tidak keliru. Dia telah menempuh jalan yang benar. Dia benar-benar gadis salehah yang pemalu. Yang terlalu sesungguhnya adalah Ustadz Jalal dan Ustadzah Maemuna. Mereka berdua sungguh terlalu. Atau justru aku yg terlalu dan begitu dungu.
    rinai tangis dalam hatiku
    bagai rintik hujan di kota
    apagerangan makna lesu
    yang menyusup masuk kalbuku

    Penggalan puisi “lagu hujan” karya penyair perancis Paul Verlaine (1844-1896) --

Maaf jika ada yang tak berkenan. Diatas hanyalah pendapat saya saja. Keminiman kemampuan saya dalam menangkap perbedaan buku dan Film, agaknya memang cukup mengganggu saya untuk menikmati Film Ayat-Ayat Cinta, dalam sisi yang berbeda. Yaitu sisi film.

Untuk yang lainnya. Penambahan kehidupan poligami Fahri, Aisha, dan Maria, cukup bagus diceritakan. Kalimat sabar ikhlas dan adil, menjadi kata yang keramat dalam hubungan itu, yang ternyata sulit sekali di praktekkan. Jangankan untuk mengarungi hidup terpenjara, dan terpoligami. Dalam kehidupan sehari2 pun sangat sulit. Dalam film, Fahri saja kesulitan mengartikan kata ikhlas, ketika istrinya ternyata lebih kaya dari dia, itu adalah seorang Fahri.

Gambar dalam film, cukup bagus. Walaupun sebenarnya saya kurang suka dengan film yang gelap. Mungkin karena begitulah wajah Kairo, agak redup, dan sedikit gelap. Salah saya, karena membayangkan Kairo kota yang sangat terang dan panas. Tapi itu adalah setting buatan yang dengan sangat indah mahir dan sabar, dibuat oleh kru film. Karena seperti yang dibaca dari blog mas Hanung, bahwa dalam perjalanan pembuatan film, tak dapat di pungkiri mereka kehilangan kesempatan emas untuk syuting di kota yang menjadi setting utama buku itu.
Kambing dan unta yang berjalan di jalan2 besar, juga agaknya sedikit mengganggu, begitukah rupa Kairo?. taukah ini salah saya lagi, karena mungkin digambarkan, flat Fahri berada di dekat pasar di salah satu sudut hiruk pikuk kota Kairo.

Pemainnya bagus. Meskipun sesekali, pemain seperti menjadi dirinya sendiri. Seperti Aisha yang tampak seperti Rianti yang kebule2an. Tapi peran Rianti cukup mendapatkan apresiasi, karena seringkali ia berakting menggunakan mata, karena ia bercadar. Maria diperankan dengan apik, gadis ceria itu benar2 menjadi pribadi yang ceria. Paling senang ketika dengan berbinar2 ia membacakan surat Maryam di dalam metro. Fedi Nuril sebagai Fahri, aktingnya bagus. Walau didalam film, Fahri yang ini cukup berani menatap mata wanita (walaupun mungkin tak sengaja).

Scene yang menitikkan air mata. Bagi saya adalah saat Aisha keluar dari ruangan Maria di Rumah Sakit, saat setelah ia merelakan suaminya berpoligami. Dan kemudian disusul oleh Madame Nahed, yang berterimakasih atas kesadaran Maria, yang secara tidak langsung berkat keikhlasan Aisha dipoligami. Senandung ucapan syahadat pun, menjadi sangat agung disana. Pertanyaannya, siapa yang mengucapkan syahadat itu, Maria atau Aisha?.
Mungkin Maria, karena ia masuk kedalam Islam. Lalu kenapa hanya satu bacaan syahadat.
Mungkin Aisha, karena cintanya kepada manusia tak boleh lebih besar dari cinta nya kepada Allah SWT dan utusan Nya Muhammad SAW.
Mungkin jawabannya agak sulit, karena suara mereka hampir sama..

Tak percuma mengeluarkan beberapa lembar uang untuk menikmati sajian Film AAC. Meskipun bagi saya pribadi, buku nya tetap lebih baik, karena kita bebas berkhayal dalam pikiran kita sendiri. Tapi lagi2 itu adalah dua produk yang berbeda.

Bukan lagi tentang film.
Ini cerita tentang keadaan didalam bioskop. Didalam sangat tenang dan tentu saja PENUH hingga deretan terdepan terbawah (pasti capek mendongakkan kepala terus menerus). Banyak juga ditemui anak2 yang umurnya kisaran 12-15 tahun an. (sebenarnya bolehkah mereka masuk?), saya lihat mereka datang bergerombol (mungkin satu geng), dan tak ada satupun orang yang lebih tua yang mendampingi mereka.

Kalau bicara mengenai antrian. Kota Semarang yang hanya memiliki dua bioskop, agaknya sedikit kewalahan menanggapi membludaknya penonton Ayat-Ayat Cinta Film. ("Mas Hanung , meskipun bajakan beredar, penonton tetap banyak, apresiasi terus menerus mengalir untuk Mas dan Kru". Dan produser, "Semoga segera bisa balik modal, antusias penonton sangat hebat untuk sebuah film nasional"). Bayangkan, aku membeli tiket hari Sabtu siang agak sore. Untuk kemudian menonton hari minggu jam 11 siang. Karena jam-jam sebelum itu, sudah penuh di booking orang. Membeli di hari sabtu itupun tak mudah, karena antriannya sudah sekitar 10 meter lebih kebelakang, dan mepet sekali, yang dalam beberapa menit berikutnya, antrian dibelakang kami pun sudah bertambah dengan cepat (sabaaar...). Sebuah fenomena yang sangat hebat bagi film nasional. Yang secara tidak langsung, menggeser pamor Lari dari Blora yang juga adalah film terbaru di bioskop Semarang.

Terakhir.. Sebuah sajian mengenai film religius pun telah tersaji. Dibalik segala kendala yang datang. Dan tanggal premiere yang selalu saja mundur. Serta guncangan beredarnya bajakan Ayat-Ayat Cinta. Akhirnya semua itu lebur dalam kesuksesan film ini meraup banyak massa, untuk datang berbondong2 ke bioskop.

Peluh, air mata, sikap emosional yang teraduk2 dalam proses pembuatan film dan pelajaran2 yang menjadi hiasan dalam setiap langkah sutradara dan kru, kini terjawab sudah. Film ini laris dan sukses di pasaran. Menuai banyak kritik dan pujian. Terimakasih patut di layangkan kepada tangan2 dingin para pembuat film Ayat-Ayat Cinta. Sabar dan ikhlas, bukanlah lagi suatu kata2 biasa. Itu adalah kata2 yang paling berpengaruh.
 
"Sabar dan Ikhlas adalah Islam"......  (kata seorang tokoh di dalam film Ayat-Ayat cinta).





**Agaknya mas Hanung ingin mengulang sukses dengan mencoba memenangkan ijin untuk selajutnya memfilmkan Azzam dkk, dalam Ketika Cinta Bertasbih**




28 Comments
dansapar wrote on Mar 2
hmmm
udah liat jg
not bad
/me datang dengan semangat baru utk liat film baru dengan cerita yang baru
hihihiihi
arifnur wrote on Mar 3
Selamat .. akhirnya kebagian nonton juga he.he... malam kemarin di jogja Hanung juga ditanya anak-anak, kenapa riyanti dan maria berbahasa Indonesia...?
artaqiem wrote on Mar 3
baru nonton mba, ya...?
yang gratisannya apa yg di Bioskop niiiechh...
hehehehe....

ya klo sudah baca novelnya pasti taulah kejanggalannya...

ya ga...
julianawa wrote on Mar 3
me datang dengan semangat baru utk liat film baru dengan cerita yang baru
hihihiihi
Sama... hehe.. ^__^
julianawa wrote on Mar 3
arifnur said
Selamat .. akhirnya kebagian nonton juga he.he... malam kemarin di jogja Hanung juga ditanya anak-anak, kenapa riyanti dan maria berbahasa Indonesia...?
Iya nih mas.. Akhirnya... Hehehehe...
Iya, aku baca yg di MP nya mas Arif. Sebenernya ga jd masalah mau pake bahasa apa, tp yg pasti klo dipaksakan semua berbahasa Arab, bakal susah banget buat pemain. Tapi ya intinya, walopun berbahasa Indonesia tapi tetep pada prinsip bahwa Aisha dan Maria (pura2nya) ngga bs bahasa Indonesia. Kayak di novel aja deh, kn pke bhs Indonesia, soalnya klo dipaksakan pke bhs Arab, yg mbaca jg bingung ngartiin nya.. Tapi ini kn beda, film ya film, buku ya buku.. ^__^
julianawa wrote on Mar 3
baru nonton mba, ya...?
yang gratisannya apa yg di Bioskop niiiechh...
hehehehe....

ya klo sudah baca novelnya pasti taulah kejanggalannya...

ya ga...
Iya baru nonton. Biarpun ketinggalan, tapi tetep nonton di bioskop kok, hee.. (padahal bajakannya juga udh gampang ngedapetinnya, hee..). Tapi antriannya masih panjang kok.. Bener2 salut buat antusias para penonton. Yaa ada yg janggal memang, tp gpp deh.. Gtu aja udh bagus kok..
oetjipop wrote on Mar 3
tambah pengen nonton nih...

*ga sempet2 euy...
dreeunited wrote on Mar 3
soal ucapan syahadat sesaat stelah Fahri menikahi Maria, aku meliat dan mendengarnya lengkap kok mba : 2 syahadat. bersaksi tiada ilah melainkan Allah dan bersaksi Muhammad utusan Allah..

soal antrian, sama mbak dg di pekanbaru. ga usah diceritain, intinya sama : antrian mbludakk...:D
julianawa wrote on Mar 3
*ga sempet2 euy...
Ayo mbak buruan.. Tapi kayaknya bakal lama nih film, soalnya peminatnya masih bersedia mengantri dengan manis dan tertib.
julianawa wrote on Mar 3
soal ucapan syahadat sesaat stelah Fahri menikahi Maria, aku meliat dan mendengarnya lengkap kok mba : 2 syahadat. bersaksi tiada ilah melainkan Allah dan bersaksi Muhammad utusan Allah..

soal antrian, sama mbak dg di pekanbaru. ga usah diceritain, intinya sama : antrian mbludakk...:D
Ohh gtu.. Mungkin di sensor, ato mungkin aku yg kurang ngeh.. :-? *sori klo salah*
Antriannya dimana2 sama aja mas. Nonton kn butuh perjuangan.. hee..
sahputra08 wrote on Mar 3
boleh kasi komment ya.... setuju banget nich film ada beberapa hal yang tak sama ato tidak ditampilkan... contoh saat fahri sakit ga ditampilkan, trus seingat aku dinovel ga diceritakan klo maria ama aisha serumah... difilm diceritakan.... nah trus sewaktu dipenjara, seingat aku dinovel bukan hanya 2 orang saja tetapi ada beberapa lagi tahanannya... dll lah

but over all, ini film bagus lah... ketimbang film2 indonesia yang lain kebanyakan hantu2 yang ga jelas.....
artaqiem wrote on Mar 3
"Gambar dalam film, cukup bagus. Walaupun sebenarnya saya kurang suka dengan film yang gelap. Mungkin karena begitulah wajah Kairo, agak redup, dan sedikit gelap. Salah saya, karena membayangkan Kairo kota yang sangat terang dan panas. Tapi itu adalah setting buatan yang dengan sangat indah mahir dan sabar, dibuat oleh kru film. Karena seperti yang dibaca dari blog mas Hanung, bahwa dalam perjalanan pembuatan film, tak dapat di pungkiri mereka kehilangan kesempatan emas untuk syuting di kota yang menjadi setting utama buku itu."

waduh mba.. kebetulan memang settingnya bukan di Mesir tapi di India
karena keterbatasan dana dan katanya PH di Mesir memeras kru jadi pindah ke sana, So settingan Fahri di Sungai Nil kayanya bukan Nil beneran dech...
just info...
nhusase wrote on Mar 3
bagi gw yg baru akan mbaca novelnya,
mnrt gw film disuguhkan dgn sangat baik ketimbang film2 Indonesia lain yg kebanyakan hantu2 gentayangan seakan-akan Indonesia ini hampir seperti negara hantu. mending kalo serem...ini mah ngga ada serem2nya. kalo pun ada film cinta, itupun disuguhkan dgn cara yg hampir sama (blm nonton love, katanya sih beda).
mnrt gw nih film patut ditonton walau ada bbrp pertanyaan di kepala. beruntung gw nonton dulu sebelum baca. jadi yaaa... nikmati aja. hehhehe...
julianawa wrote on Mar 3
but over all, ini film bagus lah... ketimbang film2 indonesia yang lain kebanyakan hantu2 yang ga jelas.....
Yaa.. ada yang hilang. Tapi film itu bagus, dibandingkan hantu2 nggak jelas.. Aku setuju sama kamu..
julianawa wrote on Mar 3
kebetulan memang settingnya bukan di Mesir tapi di India
Ohh iya, aku baca itu di MP nya mas Hanung. Aku menghormati usaha mereka "membangun" Kairo di mana2. Di India, di kota lama Semarang, dll. Tapi sepertinya gelap itu bukan karena tempatnya yg gelap, mungkin memang gambar di film yang dibikin gtu (aduh aku ngga tau ilmunya namanya apaan..)..
julianawa wrote on Mar 3
nhusase said
(blm nonton love, katanya sih beda).
mnrt gw nih film patut ditonton walau ada bbrp pertanyaan di kepala. beruntung gw nonton dulu sebelum baca. jadi yaaa... nikmati aja. hehhehe...
Aku udh nonton LOVE, ini reviewnya http://julianawa.multiply.com/reviews/item/20

Pertanyaan dikepala muncul. mungkin karena film nya terkesan lompat2. Klimaksnya ada dua antara kemenangan Fahri di persidangan dan kemudian kematian Maria di Rumah sakit pada akhir cerita. Bener gak yah.. hehe.. (ngarang mode ON) ^__^
nhusase wrote on Mar 3
skrg yg gw baca bukannya novel AAC, tp Ketika Cinta Bertasbih. kata adik gw yg sdh pernah baca, nih novel lbh bagus dan lbh kompleks. kata gw yg br baca 6 bab sih bagus bener. tinggal nunggu filmnya aja. kapan yeee...???
julianawa wrote on Mar 3
nhusase said
skrg yg gw baca bukannya novel AAC, tp Ketika Cinta Bertasbih. kata adik gw yg sdh pernah baca, nih novel lbh bagus dan lbh kompleks. kata gw yg br baca 6 bab sih bagus bener. tinggal nunggu filmnya aja. kapan yeee...???
Yang ini aku juga udh baca mas, bagus deh.. http://julianawa.multiply.com/reviews/item/16

Jangan berharap Ketika Cinta Bertasbih film bakal keluar dalam waktu dekat. Karena prosesnya panjang. Apalagi klo bener2 akan diperjuangkan untuk syuting di Kairo. Wiiiii... bisa makan waktu yg banyak, dan dana yg berlimpah..
Lagian mas Hanung juga agaknya belom dapet ijin untuk memfilm kan itu..
fahrulsani wrote on Mar 3
Kalo dilihat dari perjuangan mas Hanung sang saudara... aku sungguh kagum dengan film yang sekarang lagi diputar di layar lebar seluruh indonesia... , Film yang berdurasi kurang lebih 2 jam itu sungguh2 membuat hatiku terdetak....
aku benar2 menikmati dan terhanyut dengan ceritanya...

http://hanungbramantyo.multiply.com/journal/item/11
mungkin yang mau tau perjuangan keras sang saudara untuk sebuah film Ayat Ayat Cinta ini
julianawa wrote on Mar 3
Kalo dilihat dari perjuangan mas Hanung sang saudara... aku sungguh kagum dengan film yang sekarang lagi diputar di layar lebar seluruh indonesia... , Film yang berdurasi kurang lebih 2 jam itu sungguh2 membuat hatiku terdetak....
aku benar2 menikmati dan terhanyut dengan ceritanya...

http://hanungbramantyo.multiply.com/journal/item/11
mungkin yang mau tau perjuangan keras sang saudara untuk sebuah film Ayat Ayat Cinta ini
Iya, memang patut diacungi jempol. Secara ada banyak sekali kendala yg mereka alami..
Soal MP nya mas Hanung, saya sudah baca.
dreeunited wrote on Mar 4
Yang ini aku juga udh baca mas, bagus deh.. http://julianawa.multiply.com/reviews/item/16

Jangan berharap Ketika Cinta Bertasbih film bakal keluar dalam waktu dekat. Karena prosesnya panjang. Apalagi klo bener2 akan diperjuangkan untuk syuting di Kairo. Wiiiii... bisa makan waktu yg banyak, dan dana yg berlimpah..
Lagian mas Hanung juga agaknya belom dapet ijin untuk memfilm kan itu..
spertinya begitu. dan sperti yg diceritakan oleh mas arif di blognya soal 'penculikan mas hanung' saat di jogja, disitu jg diceritakan klo mas hanung sndiri jg berharap smoga dia yg mendapatkan rezeki untuk menyutradai 'Ketika Cinta Bertasbih' jika jd difilmkan. dan disitu beliau jg berkeinginan kuat agar bisa melakukan pengambilan gambar/adegan di Mesir/Cairo.

yaa..kita tunggu saja, karena prosesnya tidaklah mudah-jika meliat AAC yg akhirnya tidak jd shoting di Mesir-dan butuh usaha extra keras dan do'a yg banyak..

apa perlu lobi bapak2 di pusat sana ya buat membujuk Mesir..:DD
julianawa wrote on Mar 5
yaa..kita tunggu saja, karena prosesnya tidaklah mudah-jika meliat AAC yg akhirnya tidak jd shoting di Mesir-dan butuh usaha extra keras dan do'a yg banyak..

apa perlu lobi bapak2 di pusat sana ya buat membujuk Mesir..:DD
Betul, ekstra keras dan doa yg banyak..
Klo me loby bapak2 diatas sana, yaaa palingan bapak2 MD nya yah. Klo pemerintahan sih mungkin ke dep. pariwisata dan kebudayaan. Tapi ngga yakin mereka bs bantu, krn urusannya ma PH Mesir, klo ma pemerintahan Mesir mah kayaknya ga ada masalah..
teguhimamsantoso wrote on Mar 9
Moga2 ceritanya bisa jadi pendidikan dan semangat kita ya Jul!!
julianawa wrote on Mar 10
Moga2 ceritanya bisa jadi pendidikan dan semangat kita ya Jul!!
Yups.. Setuju banget ma mas Teguh..
mynotebook wrote on Mar 11
lebih kurangnya memang harus di maafkan..

walopun mmg gak puas bgt penggambaran Nurul disitu. Castingnya kali yang salah..
julianawa wrote on Mar 12
walopun mmg gak puas bgt penggambaran Nurul disitu. Castingnya kali yang salah..
Tp imel bagus kok mba akting nya. Mungkin pendalaman karakternya yang memang dibuat seakan2 Nurul jd seperti itu..
chomliki wrote on Apr 6
ma'aff ya mbak.. aku numpang memberi coment....
klo mbak belum tau betul pembuatan film ayat2 cinta janganlah memberi nilai yang segitunya. tolong baca dulu tenteng "DIBALIK PEMBUATAN FILM AYAT-AYAT CINTA" klo gak salah ada 4 bagian.... buka aja di (www.chomliki.wordpress.com) klo mbak membaca itu pasti gak akan menilai segituuu...
julianawa wrote on Apr 6
Peluh, air mata, sikap emosional yang teraduk2 dalam proses pembuatan film dan pelajaran2 yang menjadi hiasan dalam setiap langkah sutradara dan kru, kini terjawab sudah. Film ini laris dan sukses di pasaran. Menuai banyak kritik dan pujian. Terimakasih patut di layangkan kepada tangan2 dingin para pembuat film Ayat-Ayat Cinta. Sabar dan ikhlas, bukanlah lagi suatu kata2 biasa. Itu adalah kata2 yang paling berpengaruh.
@ chomliki
Maaf sekali mas, bila tulisan yg ini menyinggung. Silahkan baca yang diatas..aku udh baca di blognya mas hanung ttg pembuatan dibalik AAC ini. Dan tau perjuangan mereka, memang ngga gampang dan sangat berat. Tapi biarlah tulisan yang diatas jd pendapat saya pribadi. Pendapat org awam saja..

*udh ahh, ngga pake 'bengkerengan' yahh.. ^__^ *
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help