Ada tokoh baru di Laskar Pelangi (movie). Kata Mira Lesmana, akan hadir seorang guru dari SD Negeri, sebagai pembanding Bu Mus yg merupakan guru di Muhammadiyah. Selain itu dr bincang-bincang dengan Bu Mus, Mira Lesmana menemui fakta bahwa selama ini ada dermawan yang membantu SD Muhamadiyah, yaitu Pak Zulkarnaen (di dlm film akan diperankan oleh Slamet Rahardjo). Pak Zulkarnaen ini tak pernah diangkat pribadinya ke dalam buku, karena pastinya Ikal kecil tak kenal siapa Pak Zulkarnaen.
Kata dia (Mira Lesmana) lagi, semua itu untuk lebih membantu mengangkat drama, karena di dalam penulisan skenario itu ada hukum dramanya, dan untuk itulah mereka membutuhkan tokoh-tokoh yang bisa mengangkat drama itu.
Oke, lepas dari semua perbedaan yang pasti akan sengaja dihadirkan dalam film. Muncul pertanyaan kecil, memangnya segala sesuatu dibuku, yg dramanya sudah tentu ada, tak bisa cukup untuk menggugah rasa yg akan dialami penonton?.
Bukankah buku itu adalah buku best seller, yang dengan begitu saja (anggaplah tanpa hukum drama) bisa terjual banyak, dibaca orang banyak, dan akhirnya menjadi kisah best seller, dan menjadi motivator banyak orang.
Apakah dr semua fakta yang terungkap dr sebuah buku itu, masih perlu disisipi cerita lain dengan penggambaran tokoh lain, untuk mengikuti hukum drama?.
Yaa mungkin tersandung durasi. Ketika kita bisa membaca buku dengan berhari-hari, di jam tak tentu (pagi; siang; sore; malam; tengah malam), hanya bermodalkan mood, tanpa ongkos bayar tiket, dan tanpa perlu ke suatu tempat yg khusus digunakan utk membaca.
Dan kemudian karya bebas itu diangkat ke dalam film, yang durasinya terbatas, yang harus bertemu dengan LSF (Lembaga Sensor Film), yang harus menyamakan visi tak hanya dengan penulis tapi juga dengan produser; penulis skenario; pembaca buku; dll.
Memang sulit ternyata (aku juga mungkin gak akan mampu).
Tapi secara garis besar, aku (pribadi) memang kurang menyukai film yang terlalu melenceng dari plot buku. Apalagi di bagian-bagian yg aku (pribadi) sukai. Ini bukan melulu ttg Ayat-Ayat Cinta, yang secara terbuka, banyak yg kurang menyukai adanya perubahan karakter, perubahan jalan cerita, dan perubahan kebiasaan.
Ada penggemar buku Harry Potter yang kurang menyukai diangkatnya novel itu ke film, meskipun tetap menonton, tapi tetap saja ada yg membuat nya kurang puas (entah yg mana nya, aku sih seneng-seneng aja, hee..). Ini sekelas Harry Potter yang jebolan Hollywood. Indonesia masih jauh dr sempurna untuk hanya mensejajarkan dengan standard Hollywood (hee..memang nya apa standard Hollywood, aku jg ngga ngerti).
wah dapet bocoran dari mana tuh? kapan film nya dirilis.....sebagus AAC ga ya......
Baca di 21cineplex pak, tuh dibawah udh kukasih link nya (td lupa). Mungkin bakal lebih bagus, atau kurang bagus dr AAC, kn org beda-beda pak.. Nunggu klo dah kluar aja yah pelem nya..
Wah novelnya udah aku baca...bagus sekali. Bahasanya 'menggigit' sekali. selama membaca jadi terbawa, tapi bukan lebih krn suasananya, namun dgn deskripsi dan personifikasi kata per kata, kalimat per kalimat . Soal film sih no comment. selain belum nonton (karena belum dirilis), film dan novel itu punya kaidah dramatikal yang berbeda. hehehehe... jeng julia jangan terlalu serius baca komentarku, aku cuma berlagak jadi kritikus aja hehehehe....
Wah novelnya udah aku baca...bagus sekali. Bahasanya 'menggigit' sekali. selama membaca jadi terbawa, tapi bukan lebih krn suasananya, namun dgn deskripsi dan personifikasi kata per kata, kalimat per kalimat . Soal film sih no comment. selain belum nonton (karena belum dirilis), film dan novel itu punya kaidah dramatikal yang berbeda. hehehehe... jeng julia jangan terlalu serius baca komentarku, aku cuma berlagak jadi kritikus aja hehehehe....
Hehehe... Klo ngga serius baca nya, ngga asik mas. Aku seneng baca komentarnya mas Aris, panjang tp bermakna....ni serius lohh.... Hee.. Ya sih mas, memang susah klo masih aja belajar mempelajari bahasa dramatikal yg berbeda antara film dan novel. Moga-moga cepet tamat ahh belajarnya, biar klo nonton novel yg difilmkan ngga mbatin-nin novel nya terus.. ^-^
Hehehe... Klo ngga serius baca nya, ngga asik mas. Aku seneng baca komentarnya mas Aris, panjang tp bermakna....ni serius lohh.... Hee.. Ya sih mas, memang susah klo masih aja belajar mempelajari bahasa dramatikal yg berbeda antara film dan novel. Moga-moga cepet tamat ahh belajarnya, biar klo nonton novel yg difilmkan ngga mbatin-nin novel nya terus.. ^-^