Masih nyambung sama tulisan sebelumnya (CAKTH). Ada apa yah di atas sana, apakah ada kebahagian surgawi dan limpahan materi yang tak habis lekang oleh waktu. Sehingga mereka lupa ada rakyat kekurangan di bawah sini. Bahkan di tingkat nasional pun, penyakit lupa juga menjangkiti pemimpin-pemimpin di negeri ini. Mau itu tokoh-tokoh reformasi, tokoh-tokoh nasionalis, tokoh-tokoh orde baru, dan bla bla bla. Mereka sama-sama gampang kalap sama kelimpahan yg mereka dapat. Tokoh-tokoh yang tak mendapatkan kursi sepertinya akan berjuang lagi untuk 2009. Mereka akan apa?. Mau apa?. Bertindak bagaimana?. Apakah model kampanye nya akan tetap sama?. Lalu apa bedanya?. Nah loh, banyak pertanyaan.. :DSesulit itukah menjadi seseorang yang diandalkan rakyat. Pasti banyak pikiran yah. Mulai dari mikir partai, politik, ideologi, sampai urusan pribadi. Ati-ati banyak pikiran bisa bikin gila. Ngga ada yg dipikirin juga gila, hee..Pengen nya sih mau milih pemimpin (tingkat nasional atu propinsi), yang berkelanjutan (kalo-kalo aja masih nyalon). Biar tujuan nya tetap sama, pengembangan nya tetap sama. Karena klo beda orang, beda pikiran, beda tujuan, maka akan banyak proyek-proyek yang menggantung. Satu begini, satunya lagi begitu, lain nya begini, yang lain begitu, sebelahnya mau ini, sebelah sana nya mau itu. Lha yang nonton (rakyat), dan yang bayarin (rakyat lagi), cuma bisa ngaplo sambil melihat proyek-proyek yang udh di gembar-gemborkan hilang tak berbekas. Kayak sulapan. Sebenernya klo mo dipikir, ketika tujuan nya sama-sama untuk mensejahterakan rakyat, harusnya mereka satu pikiran, ahh tapi siapa yg ngerti dalam nya imajinasi orang lain. Apalagi klo udh terjepit sama kata-kata magis "negosiasi", ato "penyamaan visi", artinya musti kenalan sama imajinasi orang lain, dan disama-sama in (katanya biar kompak).Tapi klo mau semuanya sama, keliatan nya negara ini akan jadi nggak seru yahh..
-- just sharing lho ya --