Budaya, yang sekarang sedang, bahkan sudah mendarah daging, Uang Pelicin, semakin menyebalkan.
Hari ini aku mengalaminya. Rasanya sakiiit banget, kalah karena sesuatu yang sama sekali ngga sesuai dengan prosedur. Klo kata mas ku, "belom rejeki kali neng, di ikhlasin aja" Yaa yaa yaa.. aku "IKHLAS".
Sebenernya, mo jadi apa negara kita ini, orang2 jujur sepertinya sudah kalah sama orang2 kaya, orang2 pinter juga kalah sama orang kaya, orang kaya yang baik juga kalah sama orang kaya yg "culas".
Ketika menjunjung tinggi kejujuran, sering kali kita tak mendapat apa2. Maka secara tidak langsung pun, kita dipaksa untuk mengikuti aturan rimba, yg entah datangnya dr mana. Dan ketika saat itu terjadi, palingan kita hanya bisa bersabar, menunggu uang dr langit yang belom tentu datang.
Simple, contoh paling konkrit yg sering terjadi di sekitar kita. Pengurusan hal2 kecil yang penting, seperti surat2 yang berhubungan dengan pemerintah (KTP, SIM, dll). Ngga jarang kita pun, menghalalkan urusan kecil seperti per calo an dan lain2. Duitnya emang ngga seberapa, tapi itu cukup menjadi bukti, bahwa hal semacam itu, tumbuh subur di Negeri tercinta ini. Itu di pemerintahan, yang selalu di ekspose terus menerus, beda lagi klo di swasta. Ngga jarang kita sering merasa pengen jadi "anak kesayangan" boss, itu jg bentuk penyalahgunaan jabatan lohh, nurut ini itu. Bukan dalam bentuk uang, bentuknya bisa macam2, parcel, traktiran makan. Kadang perbedaannya tipis antara berbuat kebaikan yg tulus, dan berbuat kebaikan yang ada "maksud" tersembunyi.
Tapi balik lagi, itu lah hidup (di Indonesia), kenyataan emang kadang pahit, tapi mo gimana lagi, itulah kenyataan.
Dan saat ini, hanya satu kalimat yang pengen aku bilang, "Maaf, kami ngga punya uang sebanyak itu.." Klo ini artinya kami nggak akan dapat kesempatan apapun, kami akan (berusaha) terima.
jaman edan kalo ga ikut edan ya ga kebagian! setuju? gue sih kagak ^^ thanks dah bisa numpang komen
Iya, dr dalem ati jg aku ngga setuju mas. Makanya aku mendingan gak dapet apa2, daripada musti menghalalkan cara2 seperti itu. Bahkan untuk pengurursan KTP ajah, aku musti rela diputer2 in bahkan nunggu berjam2 di kelurahan dan kecamatan. Buang2 waktu sih, dan emang sama sekali gak efektif, tp mo gimana lagi..