Buku bagus. Dan sangat layak baca. (maaf jika saya terlambat membacanya)
Berbeda dengan Ayat-Ayat Cinta. Buku ini lebih luas ceritanya. Tidak hanya berkutat dengan Azzam (tokoh utama), melainkan meliputi sekeliling tokoh tersebut, teman2 nya, koleganya, keluarganya, tetangganya di desa, dan masih banyak lagi.
Dikisahkan, Azzam, mahasiswa Indonesia yg sudah 9 tahun berada di Kairo-Mesir. Dan dia jg belum bisa menyelesaikan S1 nya. Bukan krn apa2, dia harus memeras keringat disana, bekerja. Membuat bakso dan tempe, bahkan sesekali menjadi tukang masak, untuk masakan Indonesia. Dia sangat berbakat, dan sangat memiliki jiwa enterpreneurship yg tinggi.
Didalam kehidupannya, dia jauh dengan cinta. Suatu hari, dalam kehidupan nya muncul seorang gadis, anak dubes Indonesia untuk Mesir, Eliana. Gadis pintar lulusan Perancis, cerdas, cantik, dan kaya. Bahkan dia sangat pandai berakting, dan menari tarian perut. Kelebihannya yang terakhir, membuat Azzam agak malas, dengan gadis itu. Apalagi sebelumnya, gadis itu hendak menghadiahinya sebuah ciuman, atas bantuannya dalam menyajikan ikan bakar khas jogja. Dia merasa kurang di hormati saat itu.
Eliana, memiliki seorang sopir, Pak Ali. Beliaulah yang akhirnya memperkenalkan Azzam dengan sosok wanita lain. Anna Alfathunnisa. Anak seorang kyai besar di Wangen, Solo. Kecerdasannya yang sangat tinggi, kesantunannya, kerendahan hatinya, dan tentu saja kecantikannya. Menggiring Azzam, melamar gadis itu, melalui saudara Anna, yang tinggal di Kairo, Ustadz Mujab. Tapi ternyata, di saat yang sama, Anna telah dilamar org lain, yang tak lain adalah temannya Furqon. Selain itu, secara terang2 an Ustadz Mujab, menolak lamaran Azzam, dan membanding2kannya dengan Furqon, yang seorang lulusan S2 Kairo, dan anak orang kaya di Jakarta. Azzam kehilangan kesempatan menyunting gadis cantik itu.
Selanjutnya, kisah lain menghiasi buku yang dibuat secara dwilogi. Dengan kehadiran teman2 Azzam yang lain. Furqon, anak orang kaya di jakarta, yang hanya untuk menyepi demi tesis nya saja, dia harus tinggal di hotel mewah. Sampai suatu hari, dia menemukan dirinya bangun tidur dengan keadaan yang sangat memalukan. Setelah diselidiki, dia menjadi salah seorang korban penularan penyakit AIDS yang dilakukan oleh Mossad, untuk menghancurkan generasi muda Mesir. Dr hasil sebuah tes di RS Kairo, ternyata dia positif terkena HIV. Hidupnya terasa hancur.
Teman Azzam yang lain, yang menjadi cerita disana. Adalah, Fadhil, yang begitu dicintai dan mencintai Tiara. Tapi karena tidak segera berterus terang, mereka terlambat mengikrarkan cinta mereka. Dan karena emosi Tiara, dia disunting oleh laki2 yang tidak dicintainya, Ustadz Zulkifli. Hafez, adalah teman serumah Azzam, dia sangat mencintai Cut Mala (adik Fadhil), dan karena cintanya, dia sering kali merasa tersiksa, dia sendiri pun jg tidak tau mengapa. Sampai saat Azzam pulang, dia masih belum mampu berterus terang.
Itu sekelumit cerita dr buku "Ketika Cinta Bertasbih" karya Kang Abik.
Selanjutnya, bisa Anda baca dan anda bayangkan sendiri. Cara kang Abik bercerita, cara Kang Abik menulis, sunggu Indah. Didalamnya terselip banyak sekali dakwah2, yang sama sekali tidak tampak menggurui.
Kisah Azzam, yang pada akhir buku menemukan pemberhentian terakhir di hati Anna Alfathunnisa. Tidak semata2 berujung disitu. Sebelumnya pembaca akan diajak ber"jalan2" dari satu cerita ke cerita yang lainnya. Diajak menemui tokoh2 lain yang datang, berhenti sejenak, lalu pergi lagi dr kehidupan Azzam.
Pembaca juga akan diajak bertemu dengan kearifan keluarga Azzam, Ibu dan adik2nya bagai keluarga sempurna, tanpa sosok Ayah ditengah2 mereka, mereka seakan tahu bahwa Azzam sangat berbakti, sangat berkorban demi mereka, dan sedikitpun, tak tampak sikap mengecewakan dr mereka kepada Azzam. Adik pertamanya, Husna, telah menjadi seorang psikolog, dan telah bekerja, dia jg menjadi seorang penulis, yang buku pertamanya bisa dibilang best seller, dan punya banyak sekali penggemar. Adik keduanya telah menjadi seorang guru, dengan ijasah lulusan D3 Guru, dan mjd pegawai tetap di sebuah SD. Dan yang paling kecil, yang saat ditinggalkan, masih berada di dalam kandungan ibunya, sekolah menghafal Al-Quran di Kudus, dan dengan umurnya yang sangat sangat belia, dia telah menghafal beberapa Jus.
Selain kehidupan keluarga Azzam, buku itu jg bercerita tentang tetangga Azzam di desa, kehidupan nyaman orang desa. Serta kehidupan nyaman para santri. Masuk begitu saja dalam cerita itu.
Yang terambil, bahwa Allah punya banyak cara untuk membahagiakan umatnya. Bahwa di setiap musibah, ada sesuatu keindahan yg tampak setelahnya. Bahwa dalam cinta, tak ada yang se abadi cinta mahluk kepada Penciptanya. Bahwa sekalipun jalan berliku, jodoh bukanlah hal yang selalu patut dikejar dengan menghalalkan segala cara.
Apalagi ya??? Yang pasti banyak inspirasi tentang menjalani hidup dengan tetap berpatokan pada kaidah Islam. Dan terutama bagi yang ingin mendalami enterpreneurship, banyak tips terselip dalam bacaan ini.
Buku pertama nya sudah lama muncul (aku pinjam dari salah seorang temen di kantor). Buku kedua yang menjadi akhir cerita hidup Azzam, baru liburan kmrn saya beli dan selesaikan, krn libur, saya membacanya dalam hitungan satu hari, disambi bantu2 kegiatan di rumah. Tapi untuk meyakinkan momen2, atau bagian2 tertentu, perlu baca berkali2 lagi (hee..). Selamat membaca.
pas buku kedua udah launch di internet, saya langsung nyari2 dijogja. ternyata belum dapet. eh besoknya nyari lagi, ternyata sudah ada. langsung aja di beli hehe... lam kenal
pas buku kedua udah launch di internet, saya langsung nyari2 dijogja. ternyata belum dapet. eh besoknya nyari lagi, ternyata sudah ada. langsung aja di beli hehe... lam kenal
salam kenal juga. Sama kayak mas Nico, aku jg pertama kali liat do toko buku, langsung ngambil satu, hee..
Yang terambil, bahwa Allah punya banyak cara untuk membahagiakan umatnya. Bahwa di setiap musibah, ada sesuatu keindahan yg tampak setelahnya. Bahwa dalam cinta, tak ada yang se abadi cinta mahluk kepada Penciptanya. Bahwa sekalipun jalan berliku, jodoh bukanlah hal yang selalu patut dikejar dengan menghalalkan segala cara.
Jujur, terharu membaca kutipan ini... Klise, tapi itulah hakikat sebuah hikmah. Klo ngeliat hidup disini sekarang, kontras sekali, mbak. Ya, semoga bisa istiqomah. Amien. Waffaqonallahu...Ilaihi tawakkalna wa ilaihi nunib...
Jujur, terharu membaca kutipan ini... Klise, tapi itulah hakikat sebuah hikmah. Klo ngeliat hidup disini sekarang, kontras sekali, mbak. Ya, semoga bisa istiqomah. Amien. Waffaqonallahu...Ilaihi tawakkalna wa ilaihi nunib...
Klo kata Ibu' ku, menyikapi jaman yang katanya semakin global ini, "Bejo sing eling", artinya "beruntung lah orang yang ingat" (ingat akan dosa, ingat akan mati, dan ingat akan kebesaran Allah).