Film Ini pastinya akan ngobatin kangennya semua orang dengan kehadiran om Cok Simbara, om Roy Martin, tante Tutty Kirana, dan pastinya tante Christine Hakim di dunia perfilman. Dan mereka-mereka inilah, yang menjadi bintang di film ini. Kemampuan aktingnya, benar-benar tak perlu diragukan.
Awal nonton pasti akan langsung ketemu dengan perdebatan antara dua kubu (Hidayat dan Negara). Dan ketegangan film itu ngga cuma dstu, tapi ada di sepanjang film. Film ini sama sekali nggak akan menghadirkan suasana kocak, selipan berupa kalimat komedi aja ngga akan ditemui, yaa mungkin akan ditemui di saat penggambaran di kampus, itupun tak banyak.
Masalahpun berawal dari jatuh cintanya, dua anak dari keluarga Hidayat dan Negara. Abimanyu Hidayat dan Saskia Putri Negara, keduanya memang tak pernah mau tau urusan bentroknya kedua keluarga itu. Berbeda dengan kakak-kakak dan adik-adik mereka yang dari lahir hingga besar sudah ikut campur, bahkan ngga jarang mereka sering bentrok ketika tak sengaja bertemu diluar. Berawal dari sini, kekuatan cinta mereka pun dipertanyakan. Bagaimana cara Abi dan Saskia bertahanpun diceritakan.
Film ini juga banyak dilengkapi adegan action para pemerannya. Dan jujur saja, bagi saya ini adalah suatu keberanian, untuk mencoba hal baru untuk penikmat film Indonesia. Walaupun sebelumnya publik film Indonesia sudah pernah disuguhi film arahan sutradara yg sama (Rudi Sudjarwo) dengan 9 Naga nya, dan mungkin beberapa film action lain, tetap saja film ini memberikan sesuatu yang berbeda. Karena menautkan kisah cinta yang rumit, ke permasalahan keluarga yang kompleks.
Secara tema, dan garis besar, film ini seperti hampir sama dengan kisah Romeo dan Juliette. Tapi lepas dari semua itu, dan setelah menonton sendri film ini, maka segala pemikiran itupun (semoga saja) akan berubah. Karena berbeda dengan kisah Romeo dan Juliette, kisah di film ini lebih kompleks dan tentu saja tidak diakhiri dengan meninggalnya dua tokoh utama yang saling mencinta.
Film ini mengambil pesan, bahwa tak boleh ada kekerasan dalam rumah tangga, apapun bentuknya. Baik secara fisik ataupun secaran psikis. Kehidupan kedua keluarga yang berlimpahan materi, ternyata tak selalu terlihat bahagia.
Ada banyak titik dalam film, yang ketika menyaksikannya, terkadang membuat saya sedikit merinding dan tak jarang berkaca-kaca. Mungkin bisa sekalian bercermin tentang kehidupan keluarga yang dijalani setiap orang. Kemudian kisah cinta Abi dan Saskia inipun bisa lebur kedalam kisah yang menjadi lebih utama dalam film ini, yaitu tentang keluarga dan hubungan setiap anggota didalamnya.
Gambar film yang agak gelap (yang biasanya kurang saya sukai), tersuguh dari awal hingga akhir film. Agak bikin pusing, karena memang tak ada sisipan komedi, bahkan selalu dan terus menerus disuguhi adegan kekerasan dan tembak-tembak kan. Tapi kembali lagi, bagi saya cerita yang dikemas sangat kaku ini merupakan tontonan yang asik. Karena banyak mengandung sisipan pesan.
Dan tentu saja film ini bertabur bintang-bintang lawas dan baru. Dari Christine Hakim sampai Acha Septriarsa. Dari Cok Simbara, Vino G Bastian sampai pendatang baru yang berperan sebagai Dirga. Kehadiran sosok-sosok sinetron seperti Dicky Wahyudi, Helmalia Putri, dan kehadiran bintang cilik (dulu) Dea Ananda, ngga merubah cerita jadi timpang. Akting mereka pun saya rasa cukup baik dan total. Sosok aktris dan aktor kita yang berubah jadi sedikit garang, juga menjadi suatu tontonan yang baru. Bagi saya penampilan Luna Maya memang sedikit berbeda dengan film-film sebelumnya, di film ini dia lebih pantas menjadi bodyguard perempuan, karena tampilannya memang garang sebagai anak perempuan tertua di keluarga Negara.
Sejauh ini, sepertinya animo masyarakat terhadap film ini sedikit. Terbukti dari jumlah penonton di studi 4 Citra 21 Citraland Semarang, sepertinya tak lebih dari 20 orang. Di dalam studi pun sepi, teriakan yang benar-benar terjadi bersamaan hanya pada saat film berakhir, karena disaat ini lah timbul rasa penasaran yang besar.
Bagi yang mengharapkan adanya sedikit kekocakan dalam menikmati film, tidak saya anjurkan menonton film ini. Tapi bagi yang ingin disuguhi film yang bergenre action drama, layak menyaksikan film ini. Mungkin skalanya masuk ke dalam film yang cukup berat.
NB : Agak bingung mo masukin ke genre yang mana, akhirnya pilih DRAMA aja. Bintang cukup tiga, karena memang filmnya ngga ada kocak-kocaknya sama sekali, jadi nontonnya dengan agak sedikit berat dan mikir, tapi ASIK.
@ bambz98 Wah klo nunggu itu msh lama deh mas kynya, kn film nya bru muncul. Ngga tertarik nonton di bioskop dulu nih.. ;;) (hee..)
@ mbak ries Kok bilang bersambung sih.. (sssttt..) kn biar bikin penasaran yg belom nonton. Kata sodaraku sih emang karena adanya moment "spesial" nya om Roy. Tapi ngga tau jg ding mba.. Nunggu mas rudy soedjarwo aja.. *moga-moga gak lama*
aq mau usul ke Rudy judule ganti aja jadi: Tanktop, airmata dan petasan
Wakakaka... ngekek asli mbak, denger usulan mu.. :D Tambah satu lagi mba, "Tanktop, airmata, petasan, dan cabang atletik" Soalnya di sepanjang film perasaan banyak orang lari2 deh..
Ya...ya... dilihat dari judul....rasanya aku tidak akan menontonnya.... terus terang aku udah ill fill ama film indones... tapi tidak semua sih....aku kemarin nonton AAC
Ya...ya... dilihat dari judul....rasanya aku tidak akan menontonnya.... terus terang aku udah ill fill ama film indones... tapi tidak semua sih....aku kemarin nonton AAC
Yang ini agak beda kok mas. Awalnya agak ragu ngeliat muka Acha dan Vino, tapi penasaran ma om-om dan tante-tante senior. Ehh jebulono ngga jelek2 amat kok.. Masih lumayan bagus dari pada cinta-cinta an remaja di film2 lain..
wah sorry nih aku beda pendapat, film ini mah dangkal banget....sinetron banget...dan bukan film berat,cerita keluarga kaya dan terpandang....dan hmmmm....mereka kerjaannya seolah cuma meneror pasangan backstreet ini..apa nggak ada kerjaan lainnya? konfliknya dibuat2 tuh....aku sih nggak anti2 banget ama film indo...AAC malah bikin aku terbawa...sedih haru..dan kasmaran...betul juga yang dibilang hanung..kalo AAC itu unsur keterwakilannya tinggi...eh, kok jadi ngomongin AAC yah? hehehhe...sori soal filmnya rudi soejarwo ini aku beda pendapat banget....
wah sorry nih aku beda pendapat, film ini mah dangkal banget....sinetron banget...dan bukan film berat,cerita keluarga kaya dan terpandang....dan hmmmm....mereka kerjaannya seolah cuma meneror pasangan backstreet ini..apa nggak ada kerjaan lainnya? konfliknya dibuat2 tuh....aku sih nggak anti2 banget ama film indo...AAC malah bikin aku terbawa...sedih haru..dan kasmaran...betul juga yang dibilang hanung..kalo AAC itu unsur keterwakilannya tinggi...eh, kok jadi ngomongin AAC yah? hehehhe...sori soal filmnya rudi soejarwo ini aku beda pendapat banget....
Gpp mas Aris. Aku menghormati yg bebas berpendapat, seperti aku jg berharap org lain menghormati kebebasan berpendapat ku. Btw, lepas dari segala pro dan kontra nya, AAC memang film yg bagus kok, aku jg mengakui itu..